Motto

16 Des 2010

Sejarah Ilmu Pengetahuan


ILMU PENGETAHUAN

I.        SEJARAH PERKEMBANGAN

Pada awalnya yang pertama muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus merupakan bagian dari filsafat. Sehingga dikatakan bahwa filsafat merupakan induk atau ibu dari semua ilmu (mater scientiarum).  Karena objek material filsafat bersifat umum yaitu seluruh kenyataan, pada hal ilmu-ilmu membutuhkan objek khusus.  Hal ini menyebabkan berpisahnya ilmu dari filsafat.
Meskipun pada perkembangannya masing-masing ilmu memisahkan diri dari filsafat, ini tidak berarti hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu khusus menjadi terputus. Dengan ciri kekhususan yang dimiliki setiap ilmu, hal ini menimbulkan batas-batas yang tegas di antara masing-masing ilmu. Dengan kata lain tidak ada bidang pengetahuan yang menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah. Di sinilah filsafat berusaha untuk menyatu padukan masing-masing ilmu. Tugas filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusian yang luas.
Ada hubungan timbal balik antara ilmu dengan filsafat. Banyak masalah filsafat yang memerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya tidak ingin dikatakan dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah (Siswomihardjo, 2003).
Dalam perkembangan berikutnya, filsafat tidak saja dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendiri, yang juga mengalami spesialisasi.  Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan, tetapi sudah menjadi sektoral.   Contohnya filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang tertentu. Dalam konteks inilah kemudian ilmu sebagai kajian filsafat sangat relevan untuk dikaji dan didalami (Bakhtiar, 2005).
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah belangsung secara fiilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifasi secara periodik. Periodisasi perkembangan ilmu disini dimulai dari peradaban yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.

A.  Zaman Pra Yunani Kuno 

Pada  masa ini manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Oleh karena itu zaman pra yunani kuno masih disebut juga zaman batu yang berkisar antara 4.000.000 – 20.000 tahun SM, sisa peradaban manusia yang ditemukan pada masa ini antara lain :
1.      Alat-alat batu
2.      Tulang belulang hewan
3.      Sisa beberapa tanaman
4.      Gambar di gua-gua
5.      Tempat penguburan
6.      Tulang belulang manusia purba.
Pada abad ke-6 SM di yunani muncul lahirnya filsafat. Timbulnya filsafat di tempat itu disebut suatu peristiwa ajaib (the greek miracle). Ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di yunani. K. Bertens menyebutkan ada tiga faktor, yaitu :
1.     Pada bangsa Yunani, seperti juga pada bangsa-bangsa disekitarnya, terdapat suatu mitologi yang kaya serta luas. Mitologi ini dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat, karena mite-mite merupakan percobaan untuk mengerti, melalui mite-mite, manusia mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta dan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya. Yang khusus pada bangsa yunani
2.    Kesusasteraan Yunani
3.    Pengaruh ilmu pengetahuan yang pada waktu itu sudah terdapat di timur kuno.
Pada abad ke-6 SM mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu orang mulai mencari berbagai jawaban rasional tentang problem yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mythos. Dengan demikian filsafat lahir. Pada zaman itu didunia ilmu pengetahuan dicirikan Know how yang dilandasi pengalaman empiris.

B.  ZAMAN YUNANI KUNO

1.  ZAMAN KEEMASAN YUNANI

Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris (pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi). Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM) mempertanyakan “Apa sebenarnya asal usul alam semesta ini?” Ia mengatakan asal alam adalah air karena air unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda dapat, seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air. 
Sedangkan Heraklitos mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsur yang paling asasi dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan di sisi lain dapat melunakkan es. Artinya, api adalah aktor pengubah dalam alam ini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbol perubahan itu sendiri.
Pythagoras (580-500 SM) berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur bilangan merupakan juga unsur yang terdapat dalam segala sesuatu. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Menurut Abu Al Hasan Al Amiri, seorang filosof muslim Phitagoras belajar geometri dan matematika dari orang-orang mesir (Rowston, dalam Kartanegara, 2003). 
Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sehingga timbullah kaum “sofis”. Kaum sofis ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). Ia menyatakan bahwa “manusia” adalah ukuran kebenaran. Ilmu juga mendapat ruang yang sangat kondusif dalam pemikiran kaum sofis karena mereka memberi ruang untuk berspekulasi dan sekaligus merelatifkan teori ilmu, sehingga muncul sintesa baru. Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum sofis.Menurut mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada manusia.
Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM), yang sekaligus murid Socrates. Menurutnya, kebenaran umum itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea. 
Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles  (384-322 SM). Ia murid Plato, berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme terdiri dari tiga premis:
-  Semua manusia akan mati (premis mayor).
-  Socrates seorang manusia (premis minor).
-  Socrates akan mati (konklusi).
Aristoteles dianggap bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

2.   MASA HELLENISTIS DAN ROMAWI  

Alexander Agung mendirikan kerajaan besar yang meliputi Yunani dna kerajaan Timur. Setelah ia meninggal maka terpecahlah kesatuan politik kerajaan. Dalam bidang filsafat tidak lagi terdapat pemikir besar kecuali Plotinus.

a)   STOISISME

Stoa  didirikan  di  athena  oleh  Zeno  dari  Kition  tahun  300  SM.    Nama  stoa menunjukan serambi bertiang, tempat Zeno memberi pelajaran. Menurut Stoisme , jagat raya  dari  dala  sama  sekali  ditentukan  oleh  suatu  kuasa  yang  disebut  Logos  (rasio), berdasarkan  rasio manusia sanggup mengenal orde universal dalam  jagat  raya.  Ia akan hidup  bijaksana  dan  bahagia  asal  saja  ia  bertindak  menurut  rasionya.  Jika  memang demikian  ia akan menguasai  nafsu-nafsunya dan mengendalikan diri  secara sempurna, supaya dengan penuh keinsyafan ia menaklukan diri pada hukum-hukum alam. Seorang yang  hidup  menurut  prinsip  stoisme  sama  sekali  tidak  memperdulikan  kematian  dan segala  malapetaka  lain,  karena  insyaf  bahwa  semua  akan  terjadi  menurut  keharusan mutlak.  Sudah  nyata  kiranya  bahwa  etika  stoisme  ini  betul-betuk  bersifat  kejak  dan menuntut  watak  yang  sungguh-sungguh  kuat.  Ini  cocok  untuk  watak  romawi  yang pragmatis. Dan suskses besar jama SENECA (2 -650 dan Kaisar Marcus Aurelius (121 – 180).

b)   EPIKURISME

Epikuros (341 -270 SM) berasal dari pulau Samos . Menurutnya segala-galanya terdiri dari atom-atom  yang  senantiasa  bergerak  dan  secara  kebetulan  tubrukan  yang  satu  dengan yang  lain.  Manusia  hidup  bahagia  jika  ia  mengakui  susunan  dunia  ini  dan  tidak ditakutkan  dengan  dewa  atau  apapun  juga.Dewa-  dewa  tidak  mempengaruhi  dunia. Lagipula  untuk  memperoleh  kebahagiaan  manusia  mesti  menggunakan  kehendak bebasnya  dengan mencari  kesenangan  sedapat mungkin.  Terlalau  banyak  kesenangan akan mengelisahkan batin manusia. Orang bijaksana  tahu membatasi diri dan  terutama mencari kesenangan rohani, supaya batin menjadi tetap tenang.

c)   SKEPTISISME

Dipelopori  oleh PYRRHO  (365    275 SM)Bukan merupakan  suatu  aliran  yang  jelas, melainkan suatu tedensi agak umum yang hidup terus sampai akhir masa Yunani Kuno. Mereka  berfikir  bahwa dalam  semua bidang  teoritis manusia  tidak  sanggup mencapai kebenaran. Sikap Umum mereka kesangsian. 

d)   EKLEKTISISME

Merupakan tendensi umum yang memetik perbagai unsur  filsafat dari aliran-aliran  lain tampa  berhasil  mencapai  kesatuan  pemikiran  yang  sungguh-sungguh.  Salah  seorang warga Romawi yang digolongkan dalam aliran ini CICERO (106 – 43). Dan PHILO (25 SM- 50 M) ia berusaha mendamaikan agama Yahudi dengan Filsafat Yunani khusunya Plato.

e)    NEOPLATONISME 

Puncak  terakhir  dalam  sejarah  fisafat  yunani  adalah  ajaran  ini,  dimaksukan  untuk menghidupkan  kembali  filsafat  Plato.  Filsuf  yang  mensintesa  PLATINOS  (203/4  – 269/70). Ia  lahir   di Mesir dan umur 40 tahun tiba di Roma untuk mendirikan sekolah filsafat  disana.    Seluruh  sistem  Filsafat Plotinos berkisar  pada konsep  kesatuan. Atau dapat  juga kita katakan  bahwa  seluruh  sistem  filsafatnya   Berkisar  pada Allah,  sebab Allah disebut dengan nama”yang Satu”. Semuanya yang ada berasal dari ”yang  satu”. Dan semuanya yang ada berhasrat pula untuk kembali kepada yang satu. Oleh karenanya dalam realitas seluruhnya terdapat gerakan dua arah, dari atas kebawah dan sebaliknya.
(1)     Dari sudut pandang atas kebawah.
Semua mahluk yang ada bersama-sama merupakan keseluruhan yang  tersusun hirarki. Pada puncak hirarki terdapat ” Yang satu” (to Hen), yaitu Allah . dari Allah (Yang Satu) dikeluarkan Akal budi  (nus)  . Akal budi  sama dengan  ide-ide plato yang dianggapnya intelek yang memikirkan dirinya sendiri. Akal budi terdiri dari pemikiran dan apa yang dipikirkan. Dari  akal  budi  itu  berasal  jiwa  dunia  (psyche)  ,  akhirnya  dari  jiwa  dunia dikeluarkan materi (Hyle) yang bersama  jiwa dunia merupakan  jagat raya. Selaku taraf yang  paling  rendah  dala  seluruh  Hirarki,  materi  adalah  mahluk  yang  paling  kurang kesempunaannya dan sumber segala kejahatan.
(2)    Dari bawah ke atas.
Setiap  taraf  hirarki  mempunyai  tujuan  untuk  kembali  kepada  taraf  lebih  tinggi  yang paling  dekat  dan  karena  itu  secara  tak  langsung  menuju  kepada  Allah.  Dan  dicapai dengan 3 langkah: penyucian (laku tapa), kedua penerangan (dengan pengetahuan ide-ide akal budi), Ketiga adalah penyatuan dengan Tuhan yang melebihi segala pengetahuan. Langkah  yang  terakhir  ini  ditunjukkan Plotinos dengan  nama  ekstasis  (ingris Ectasy). Porphyrios menceritakan bahwa selama 6 tahun ia berada bersama dengan Plotinis, 4 kali ia menyaksikan gurunya mengalami ekstasi.

C.  ZAMAN ISLAM

Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juga membuktikan Kecintaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan sikap hormat mereka kepada Ilmuwan, tanpa memandang agama mereka. Periode antara 750 M dan 1100 M adalah abad masa keemasan dunia Islam. Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab Peripatetik.
Al Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam. Berbagai karangan Aristoteles seperti Categories, Hermeneutics, First, dan Second Analysis telah diterjemahkan Al Farabi ke dalam bahasa Arab. Al Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun induktif. Di samping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Phytagoras. Oleh karena jasanya ini, maka Al Farabi diberi gelar Guru Kedua, sedang gelar Guru Pertama diberikan kepada Aristoteles.
Kontribusi lain dari Al Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya mengklasifikasi ilmu pengetahuan. Al Farabi telah memberikan defenisi dan batasan setiap ilmu Pengetahuan yang berkembang pada zamannya. Al Farabi mengklasifikasi ilmu ke dalam tujuh cabang yaitu: logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik, dan ilmu fiqih (hukum).
Ilmu percakapan dibagi lagi ke dalam tujuh bagian yaitu: bahasa, gramatika, sintaksis, syair, menulis, dan membaca. Bahasa dalam ilmu percakapan dibagi dalam: ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar, dan aturan mengenai syair yang baik.  Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori dan diakhiri dengan syair (puisi). Matematika dibagi dalam tujuh bagian.
Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu. Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika. Perkataan politieia yang berasal dari bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi madani, yang berarti sipil dan berhubungan dengan tata cara mengurus suatu kota. Kata ini kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah masyarakat sipil menjadi masyarakat madani. Ilmu agama dibagi dalam ilmu fiqih dan imu ketuhanan/kalam (teologi).
Buku Al Farabi mengenai pembagian ilmu ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin untuk konsumsi bangsa Eropa dengan judul De Divisione Philosophae. Karya lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul De Scientiis atau De Ortu Scientearum. Buku ini mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik, dan geologi. Al Farabi (w.950) terkenal dengan doktrin wahda al wujud membagi hierarki wujud yaitu (1) dipuncak hierarki wujud adalah Tuhan yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (2) para malaikat di bawahnya yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (3) benda-benda langit (angkasa), (4) benda-benda bumi. Al Farabi memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus bersepakat di antara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran.
Filosof lain yang terkenal adalah Ibnu Sina dikenal di Barat dengan sebutan Avicienna. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair. Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk syair. Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo. Buku ini kemudian menjadi buku teks (text book) dalam ilmu kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropa, seperti Universitas Louvain dan Montpelier. Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat. Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian. Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.
Kitab lainnya berjudul Al Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di Barat dikenal dengan nama Avendauth Ben Daud) di Toledo. Oleh karena Al Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika, dan  De Anima. Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoretis dan bagian yang bersifat praktis. Bagian yang bersifat teoretis meliputi: matematika, fisika, dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi:  politik dan etika.  
Ibnu Sina, mengatakan alam pada dasarnya adalah potensi (mumkin al wujud) dan tidak mungkin bisa mengadakan dirinya sendiri tanpa adanya Tuhan. Ibnu Sina mengelompokkan ilmu dalam tiga macam yakni (1) obyek-obyek yang secara niscaya tidak berkaitan dengan materi dan gerak (metafisik),  (2) obyek-obyek yang senantiasa berkaitan dengan materi dan gerak (fisika), (3) obyek-obyek yang pada dirinya immateriel tetapi kadang melakukan kontak dengan materi dan gerak (matematika).
Ibn Khaldun dalam kitabnya Al Muqaddimah membagi metafisika dalam lima bagian.  Bagian pertama berbicara tentang hakikat wujud (ontologi). Dari sini muncul dua aliran besar yakni eksistensialis (tokoh yang terkemuka adalah Ibnu Sina dan Mhulla Shadra) dan esensialis  (tokoh yang terkemuka adalah Syaikh Al Israq, Suhrawardi). 
Berikutnya Ibn Khaldun membagi ilmu matematika ke dalam empat subdivisi yakni (1) geometri; trigonometrik dan kerucut, surveying tanah, dan optik. Sarjana muslim terutama Ibn Haitsam telah banyak mempengaruhi sarjana barat termasuk Roger Bacon, Vitello dan Kepler (2)Aritmetika; seni berhitung/hisab, aljabar, aritmatika bisnis dan faraid (hukum waris),  (3) musik, (4) astronomi.
Dalam bidang ilmu mineral, dikenal karya Al Biruni yang berjudul Al Jawahir (batu-batu permata), selain itu pada abad ke-11 Al Biruni dikenal sebagai The master of observation di bidang geologi dan geografi karena Al Biruni berusaha mengukur keliling bumi melalui metode eksperimen dengan menggabungkan metode observasi dan teori trigonometri. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa keliling bumi adalah 24.778,5 mil dengan diameter 7.878 mil. Tentu saja ini merupakan penemuan luar biasa untuk masa itu, dengan ukuran modern saja yaitu 24.585 mil (selisih ± 139 mil) dengan diameter 7.902 mil. 
Dalam bidang ilmu farmakologi dan medis dikenal karya Ibnu Sina yakni Al Qanun fi al Thibb dan Al Hawi oleh Abu Bakr Al Razi, bidang nutrisi dikenal karya Ibn Bathar yakni Al Jami Li Mufradat Al Adawiyyah wa Al Aghdziyah, di bidang zoologi dikenal karya Al Jahizh yang berjudul Al Hayawan dan Hayat Al Hayawan oleh Al Damiri. Di Andalusia terkenal seorang ahli bedah muslim, Ibn Zahrawi yang telah mencitakan ratusan alat bedah yang sudah sangat maju untuk ukuran zamannya.
Filosof lainnya adalah Al Kindi, yang dianggap sebagai filosof Arab pertama yang mempelajari filsafat. Ibnu Al Nadhim mendudukkan Al Kindi sebagai salah satu orang termasyhur dalam filsafat alam (natural philosophy). Buku-buku Al-Kindi membahas mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik, logika dan filsafat. Ibnu Abi Usai’bia menganggap Al-Kindi sebagai penerjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Di samping sebagai penerjemah, Al Kindi menulis juga berbagai makalah. Ibnu Al Nadhim memperkirakan ada 200 judul makalah yang ditulis Al Kindi dan sebagian di antaranya tidak dapat dijumpai lagi, karena raib entah kemana. Nama Al Kindi sangat masyhur di Eropa pada abad pertengahan. Bukunya yang telah disalin ke dalam bahasa Latin di Eropa berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron, dan Ptolemeus. Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya adalag filosof kenamaan Roger Bacon. 
Filosof lainnya adalah Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol, meskipun seorang dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.
Ibnu Rushd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles, yaitu: komentar besar, komentar menengah, dan komentar kecil. Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa: Arab, Latin, dan Yahudi. Dalam komentar besar, Ibnu Rushd menuliskan setiap kata dalam Stagirite karya Aristoteles dengan bahasa Arab dan memberikan komentar pada bagian akhir. Dalam komentar menengah ia masih menyebut-nyebut Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yang diulas murni pandangan Ibnu Rushd.
Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al Kindi dalam bukunya Falsafah El Ula (First Philosophy). Al Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai  (Haeruddin, 2003).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar